Bapanas Salurkan CBP 1,02 Juta Ton, Pasokan dan Harga Beras Tetap Terkendali
Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan realisasi penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah mencapai 1,02 juta ton hingga 23 Juni 2026. Penyaluran tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras nasional sekaligus menstabilkan harga di tingkat konsumen di tengah dinamika pasar pangan.
Baca Juga “Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48, Pemerintah Cek Penyebabnya“
Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan bahwa distribusi CBP sepanjang tahun anggaran 2026 terus berjalan sesuai target. Pemerintah memanfaatkan stok beras yang tersedia untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengantisipasi gejolak harga di berbagai wilayah.
Realisasi Penyaluran CBP Didominasi Bantuan Pangan dan Program SPHP
Berdasarkan data Bapanas per 23 Juni 2026, total penyaluran CBP mencapai 1,02 juta ton. Sebagian besar distribusi dialokasikan untuk program bantuan pangan beras yang mencapai 601,7 ribu ton.
Selain itu, pemerintah menyalurkan 367,8 ribu ton melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras. Program ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga beras di pasar sekaligus memastikan pasokan tetap tersedia bagi masyarakat.
Distribusi CBP juga mencakup 38 ribu ton untuk golongan anggaran bagi aparatur sipil negara (ASN) di wilayah tertentu. Sementara itu, sebanyak 11,3 ribu ton digunakan untuk kebutuhan tanggap darurat di sejumlah daerah yang membutuhkan intervensi pemerintah.
Menurut Andi Amran Sulaiman, capaian tersebut menunjukkan peran penting cadangan beras pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Penyaluran yang tepat sasaran diharapkan mampu menekan risiko kenaikan harga yang berlebihan serta menjaga daya beli masyarakat.
Stok Beras Pemerintah Tembus 5,17 Juta Ton
Di sisi lain, Bapanas mencatat stok CBP yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,17 juta ton hingga 23 Juni 2026. Jumlah tersebut menjadi salah satu cadangan beras terbesar yang dimiliki pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Ketersediaan stok berasal dari pengadaan setara beras produksi dalam negeri sepanjang 2026 yang telah mencapai 3,23 juta ton. Cadangan tersebut diperkuat oleh sisa stok akhir 2025 sebesar 3,24 juta ton.
Bapanas menegaskan bahwa stok akhir tahun 2025 sepenuhnya berasal dari hasil pengadaan beras dalam negeri yang mencapai 3,43 juta ton. Dengan demikian, pemerintah dapat menjaga ketersediaan beras nasional tanpa bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan cadangan saat ini.
Besarnya stok yang tersedia memberikan ruang lebih luas bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar apabila terjadi tekanan harga atau gangguan distribusi di sejumlah wilayah.
Harga Beras Medium Masih Berada di Bawah HET
Meski harga beras mengalami kenaikan dalam satu bulan terakhir, Bapanas menilai kondisi pasar masih terkendali. Data per 22 Juni 2026 menunjukkan rata-rata harga beras medium nasional masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Di Zona I yang meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi, harga rata-rata beras medium tercatat Rp13.080 per kilogram. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan HET Zona I sebesar Rp13.500 per kilogram.
Sulawesi Selatan menjadi daerah dengan harga rata-rata terendah, yakni Rp12.665 per kilogram. Sementara itu, Sulawesi Tengah mencatat harga rata-rata tertinggi di kawasan tersebut dengan Rp13.847 per kilogram.
Pada Zona II yang mencakup sebagian besar wilayah Sumatera, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan, harga rata-rata beras medium mencapai Rp13.704 per kilogram. Nilai itu masih berada di bawah HET yang ditetapkan sebesar Rp14.000 per kilogram.
Jambi mencatat harga rata-rata terendah di Zona II dengan Rp12.595 per kilogram. Sebaliknya, Kalimantan Timur menjadi wilayah dengan harga rata-rata tertinggi, yakni Rp14.586 per kilogram.
Sementara itu, di Zona III yang meliputi Maluku dan Papua, rata-rata harga beras medium mencapai Rp15.244 per kilogram. Harga tersebut masih berada di bawah HET yang ditetapkan sebesar Rp15.500 per kilogram.
Maluku menjadi wilayah dengan harga rata-rata terendah di zona tersebut, yaitu Rp14.700 per kilogram. Adapun harga tertinggi tercatat di Papua Pegunungan yang mencapai Rp20.000 per kilogram karena tantangan distribusi dan kondisi geografis yang berbeda dibanding wilayah lain.
Cadangan Beras Jadi Instrumen Utama Menjaga Stabilitas Pangan
Ketersediaan stok beras pemerintah yang besar dan distribusi CBP yang terus berjalan menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Dengan cadangan mencapai 5,17 juta ton dan realisasi penyaluran lebih dari 1 juta ton, pemerintah memiliki kapasitas yang cukup untuk mengantisipasi gejolak pasokan maupun harga.
Ke depan, Bapanas bersama Perum Bulog akan terus memantau perkembangan pasar dan memperkuat distribusi beras apabila diperlukan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, serta perlindungan terhadap masyarakat dan petani di seluruh Indonesia.
Baca Juga “PLN: 143 SPKLU dukung mobilitas kendaraan listrik di Bali“




Leave a Reply