BI: Konektivitas EKD Antarnegara Naikkan Spending Wisman

•

BI Dorong Konektivitas EKD Antarnegara untuk Tingkatkan Spending Wisman

Bank Indonesia (BI) menilai penguatan konektivitas ekonomi dan keuangan digital (EKD) antarnegara dapat mendorong produktivitas ekonomi Indonesia. Salah satu manfaat yang dapat dirasakan ialah kemudahan transaksi bagi wisatawan mancanegara (wisman) selama berkunjung ke Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman mengatakan konektivitas EKD menjadi semakin penting di tengah perubahan ekonomi global. Kondisi tersebut mencakup ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, percepatan digitalisasi, hingga meningkatnya kebutuhan terhadap keamanan siber.

Menurut Aida, konektivitas antarnegara perlu mendukung mobilitas manusia, barang, dan jasa. Kemudahan tersebut dapat memperlancar berbagai aktivitas ekonomi lintas negara, termasuk transaksi wisatawan asing di Indonesia.

Pariwisata Menjadi Ruang Penguatan Transaksi Digital

Aida melihat sektor pariwisata sebagai salah satu bidang yang dapat memperoleh manfaat langsung dari konektivitas EKD antarnegara. Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, dan destinasi wisata yang menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai negara.

Namun, peningkatan jumlah kunjungan wisman belum sepenuhnya diikuti kenaikan rata-rata pengeluaran mereka. BI mencatat jumlah kunjungan wisman dalam tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif, sedangkan rata-rata spending justru mengalami penurunan.

baca juga: Jepang dan AS Bahas Yen, Sepakat Nilai Tukar Terlalu Rendah Jadi Masalah

Aida menyebut rata-rata pengeluaran wisatawan asing pernah mendekati 1.400 dolar AS per orang. Angka tersebut kini berada di bawah 1.300 dolar AS per orang.

Kondisi tersebut membuat kemudahan pembayaran menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat. BI menilai transaksi digital dapat membantu wisatawan melakukan pembayaran secara lebih praktis selama berada di Indonesia.

QRIS Antarnegara Perlu Menjangkau Lebih Banyak Wisman

BI terus memperluas konektivitas pembayaran digital melalui QRIS antarnegara bersama kementerian, lembaga, dan asosiasi terkait. Saat ini, konektivitas QRIS antarnegara telah tersedia dengan enam negara.

Aida mengatakan cakupan tersebut masih memiliki ruang pengembangan yang besar. Wisman dari enam negara yang telah terhubung dengan QRIS antarnegara baru mencakup sekitar 40 persen dari total wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia.

Artinya, masih terdapat sekitar 60 persen wisman yang berasal dari negara lain dan belum tercakup dalam konektivitas tersebut. Perluasan konektivitas dapat membuka akses transaksi digital kepada lebih banyak wisatawan.

Kemudahan pembayaran juga dapat membantu wisatawan melakukan transaksi di berbagai titik selama perjalanan. Aktivitas tersebut mencakup pembelian makanan, minuman, produk usaha lokal, serta kebutuhan lainnya.

Kemudahan Pembayaran Dapat Mendukung Pengeluaran Wisatawan

Aida menjelaskan perubahan pola transaksi masyarakat menuju pembayaran digital menunjukkan pentingnya sistem pembayaran yang mudah digunakan. Bagi wisatawan asing, kemudahan tersebut dapat mengurangi hambatan saat melakukan pembayaran selama berada di Indonesia.

Menurut Aida, wisatawan perlu memperoleh pengalaman transaksi yang praktis sejak tiba hingga menyelesaikan berbagai aktivitas konsumsi di destinasi wisata. Kondisi itu dapat menciptakan lebih banyak peluang transaksi bagi pelaku usaha lokal.

“Artinya adalah kemudahan bertransaksi. Dan itu yang harus kita lakukan, semuanya, bagaimana mempermudah si wisman ini untuk datang ke kita, kemudian bisa spending, melakukan pembelian-pembelian, sehingga spending-nya akan mengalami peningkatan,” kata Aida.

Pernyataan tersebut disampaikan Aida dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Sabtu. Forum tersebut menjadi salah satu ruang pembahasan mengenai perkembangan ekonomi dan keuangan digital serta peluang penguatan ekosistem digital.

Perluasan Konektivitas Menjadi Tantangan Berikutnya

Pengembangan konektivitas EKD antarnegara tidak hanya berkaitan dengan sistem pembayaran. Infrastruktur digital, interoperabilitas sistem, keamanan siber, serta koordinasi antarotoritas juga menjadi bagian penting dalam membangun transaksi lintas negara.

Bagi Indonesia, perluasan QRIS antarnegara dapat mendukung integrasi pembayaran sekaligus memperluas akses transaksi bagi wisatawan. Jangkauan yang lebih luas berpotensi memberikan manfaat kepada pelaku usaha yang berada di kawasan destinasi wisata.

BI masih menghadapi tantangan untuk memperluas konektivitas tersebut kepada wisatawan dari negara yang belum terhubung. Dengan cakupan enam negara yang baru mewakili sekitar 40 persen wisman, potensi perluasan masih cukup besar.

Ke depan, penguatan konektivitas EKD antarnegara diharapkan dapat membuat transaksi wisatawan semakin mudah. Upaya tersebut juga dapat membuka lebih banyak peluang konsumsi di sektor pariwisata dan membantu meningkatkan spending wisman di Indonesia.

baca juga: BPS catat pengeluaran wisman triwulan II-2026 mencapai 1.285 dolar AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

game perubahan gaya bermain pemain di era multiplayer modern