bikersleatherjacket.com – Kulit ikan Arapaima atau pirarucu yang dihasilkan dari tangkapan seorang nelayan Pedro Canízio dari Brasil dijual dengan harga lebih dari Rp15 juta di Rio de Janeiro. ikan raksasa yang hidup di sungai Amazon, dengan berat bisa mencapai 200 kg. Kulitnya yang tebal dan bermotif kini jadi bahan populer di industri mode internasional.
“Baca juga : Kate Middleton Pakai Tiara Favorit Putri Diana di Jamuan”
Dulu pirarucu sempat terancam punah akibat penangkapan berlebihan. Namun, saat ini ikan ini menjadi contoh penangkapan berkelanjutan di Brasil. Nelayan seperti Canízio hanya menerima sekitar Rp33 ribu per kilogram ikan. Dalam satu musim tangkap, pendapatannya setara dengan harga sebuah tas mewah itu jika berhasil menangkap ikan seberat lebih dari 450 kg. Tapi mayoritas nelayan menangkap ikan sebagai tambahan dari pertanian dan jenis ikan lainnya.
Canízio menegaskan, “Orang-orang di sini hidup sehari-hari hanya untuk bertahan. Tidak ada yang kaya.” Nelayan melakukan patroli untuk menjaga kelestarian pirarucu tanpa menerima ganti rugi bahan bakar, menunjukkan pengorbanan yang besar demi keberlanjutan.
Potensi Industri Mode Berkelanjutan
Asosiasi masyarakat lokal, seperti Asproc yang mewakili 800 keluarga di Amazon, menilai ketidakadilan dalam pembagian hasil. Ana Alice Oliveira de Britto dari Asproc mengingatkan bahwa jika nelayan tidak mendapatkan upah layak, mereka bisa beralih ke aktivitas yang merusak lingkungan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Dukungan dari perusahaan seperti Nova Kaeru, yang memasok kulit pirarucu untuk jenama ternama seperti Giorgio Armani dan Dolce & Gabbana, juga belum sepenuhnya menjamin keadilan bagi nelayan. Nova Kaeru mengklaim harga kulit lebih tinggi dari daging dan ada investasi dalam pelatihan komunitas, tetapi negosiasi harga tetap dilakukan secara lokal.
Pakar dan aktivis mode berkelanjutan menekankan pentingnya rantai pasokan yang transparan dan upah yang adil bagi pekerja. Konsultan Fernanda Alvarenga menyatakan, “biasanya tidak menguntungkan para nelayan di garis depan” hal ini harus menjadi perhatian untuk menjaga keberlanjutan secara sosial dan lingkungan.
Tantangan Keadilan Sosial bagi Nelayan Amazon
Merek-merek seperti Osklen dan Piper & Skye berupaya menegakkan standar produksi etis dan berkelanjutan, namun tantangan besar masih ada pada pengelolaan rantai produksi dan harga yang memadai.
Studi menunjukkan bahwa proses pengolahan kulit pirarucu sangat kompleks dan hanya sedikit asosiasi komunitas yang terlibat langsung dalam produksi. Menurut Cristina Isis Buck Silva dari Ibama, “Bekerja dengan kulit ikan ini sulit dipelajari dan memerlukan teknologi khusus.”
Semakin tingginya permintaan global terhadap produk berbahan ini, perhatian lebih pada keadilan sosial dan ekonomi bagi komunitas nelayan sangat penting. Upaya menjaga lingkungan tidak bisa terpisah dari peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.
“Baca juga : Erosi Gigi Makin Sering Terjadi, Kenali Tanda-Tandanya Sekarang”
Pengembangan industri mode yang ramah lingkungan dan berkeadilan memerlukan kolaborasi antar pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas lokal. Transparansi rantai pasok dan kebijakan publik yang mendukung upah layak menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan sejati. Jika hal ini terlaksana, Kulit ikan Arapaima bisa menjadi contoh sukses dalam memadukan konservasi alam dan kesejahteraan manusia.




Leave a Reply