bikersleatherjacket.com -Pemerintah China menyatakan pemilihan pemimpin tertinggi baru Iran telah berlangsung sesuai konstitusi negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan setelah penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan bahwa proses pemilihan tersebut merupakan keputusan internal Iran. Ia menegaskan pemerintah China menghormati mekanisme politik yang berlaku di negara tersebut.
“Pemilihan pemimpin baru itu adalah keputusan yang dibuat oleh Iran sesuai dengan konstitusi negaranya,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.
Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada Senin (9/3). Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang meninggal akibat serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Penunjukan Mojtaba menjadikannya pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam Iran 1979. Posisi tersebut merupakan jabatan politik dan keagamaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran.
Baca juga:“Australia Kirim Pesawat Militer ke Teluk Persia, Situasi Iran Memanas”
China Tegaskan Hormati Kedaulatan Iran dan Pilihan Mojtaba Khamenei
Pemerintah China menegaskan menentang campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran dengan alasan apapun. Pernyataan ini disampaikan setelah penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran harus dihormati semua pihak. Ia menekankan, operasi militer harus dihentikan, dialog segera dilanjutkan, dan ketegangan tidak boleh meningkat.
Guo Jiakun menyebut, Pemimpin Tertinggi Iran memegang posisi tertinggi dalam kekuasaan yudikatif, legislatif, dan administratif negara. Ia juga membuat keputusan strategis, termasuk soal program nuklir Iran.
Mojtaba Khamenei dipilih oleh Majelis Ahli Iran, lembaga beranggotakan 88 orang yang bertugas menunjuk otoritas politik dan keagamaan tertinggi. Pemilihannya mengikuti prosedur konstitusional, bukan pewarisan kekuasaan, meski latar belakang keluarga dan kedekatannya dengan almarhum Ali Khamenei memicu spekulasi mengenai suksesi.
China menegaskan bahwa langkah ini harus dilihat sebagai proses politik konstitusional yang sah. Pernyataan tersebut sekaligus menekankan pentingnya menghormati proses internal Iran dan menghindari intervensi eksternal.
Ulama Konservatif Tanpa Pengalaman Publik
Mojtaba Khamenei mempelajari fikih Islam dan teologi di bawah bimbingan ulama konservatif terkemuka, termasuk Mahmoud Hashemi Shahroudi, Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, ideolog berpengaruh bagi politisi konservatif Iran.
Meski berada lama di lingkungan ulama, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, posisi eksekutif, maupun jabatan hasil pemilihan umum. Keterbatasan ini membuatnya minim pengalaman publik.
Penampilan publik Mojtaba sangat jarang. Hampir tidak ada pidato panjang, wawancara, atau manifesto politik yang menjelaskan pandangan pribadinya secara rinci.
Ia jarang terlibat langsung dalam perdebatan politik. Aktivitasnya terbatas pada upacara resmi, peringatan nasional, dan pertemuan keagamaan yang diliput media pemerintah Iran.
Minimnya keterlibatan publik ini membuat profil Mojtaba relatif misterius. Para pengamat menilai, ia lebih berfokus pada peran spiritual dan konsultasi internal dibandingkan komunikasi publik.
Ke depan, kepemimpinan Mojtaba Khamenei diperkirakan akan mengedepankan pendekatan konservatif yang mengikuti jejak ayahnya, sambil tetap mengandalkan ulama dan birokrasi internal.
Baca juga:“Dua Pengedar Sabu dan Inex di Sunter Ditangkap Polisi”




Leave a Reply