bikersleatherjacket.com Duta Besar Rusia untuk negara-negara Eropa, Alexey Tolchenov, menegaskan bahwa perang hibrida tidak hanya melibatkan operasi militer. Menurutnya, konflik modern juga mencakup perang informasi yang sistematis. Ia menekankan bahwa Rusia menghadapi kampanye disinformasi yang tersebar luas di media internasional.
“Ketika berbicara tentang perang hibrida, itu juga berarti perang informasi. Mereka menyebarkan data yang dipalsukan dan tidak menyampaikan kebenaran,” ujar Dubes Tolchenov dalam konferensi pers baru-baru ini. Pernyataan ini muncul setelah tuduhan internasional yang menuding Rusia menggunakan taktik perang hibrida di berbagai wilayah konflik.
Dubes Tolchenov juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai standar ganda dalam peliputan media internasional terkait korban sipil di Ukraina. Ia menilai perhatian global berfokus hanya pada kerugian di Ukraina, sementara korban di wilayah Rusia dan daerah lain jarang dilaporkan. Menurutnya, hal ini menciptakan narasi yang tidak seimbang dan mengaburkan fakta.
Ahli hubungan internasional menyebut fenomena ini sebagai bagian dari “perang narasi,” di mana informasi digunakan untuk memengaruhi opini publik dan kebijakan luar negeri. Data terbaru dari lembaga pemantau media menunjukkan bahwa liputan tentang korban sipil di wilayah konflik Rusia hanya tercatat sekitar 15% dari total pemberitaan global tentang Ukraina.
Tolchenov menegaskan bahwa Rusia siap menghadapi tekanan internasional dengan pendekatan transparan. Ia menyebut penting bagi masyarakat global untuk menilai informasi secara kritis dan tidak hanya mengandalkan satu sumber. Pendekatan ini dianggap sebagai strategi diplomasi informasi yang tengah diterapkan Rusia untuk memperkuat posisi negosiasinya di arena internasional.
Para pengamat menilai klaim Dubes Rusia menyoroti kompleksitas konflik modern, di mana informasi dan persepsi publik memiliki peran strategis hampir setara dengan operasi militer. Mereka menekankan bahwa perang hibrida kini menjadi kombinasi antara tekanan politik, disinformasi, dan intervensi ekonomi yang saling terkait.
Baca juga:“Ratu Thailand Sabet Emas SEA Games di Cabor Layar”
Dubes Rusia Kecam Uni Eropa Soal Aset Beku, Sebut Upaya Sebagai Perampokan
Selain menyoroti perang hibrida, Duta Besar Rusia untuk Eropa, Alexey Tolchenov, menyoroti isu aset Rusia yang dibekukan di negara-negara Barat. Ia menilai rencana penggunaan aset ini oleh Uni Eropa dan Dewan Eropa tidak sah dan melanggar hukum internasional.
“Jumlahnya ratusan miliar. Dan mereka ingin, menurut istilah saya, mencuri uang ini,” tegas Dubes Tolchenov dalam konferensi pers. Pernyataan ini menegaskan protes Rusia terhadap langkah yang dianggap merugikan secara ekonomi dan politik.
Ia menjelaskan bahwa Bank Sentral Rusia telah mengeluarkan pernyataan resmi, menegaskan kesiapan menempuh jalur hukum bila aset Rusia digunakan secara ilegal. “Bank Sentral Rusia siap mengajukan gugatan hukum terhadap Uni Eropa, terhadap institusi mana pun di Uni Eropa yang mencoba menggunakan aset Rusia ini secara ilegal,” tambahnya. Tolchenov menyatakan gugatan dapat diajukan baik di pengadilan Rusia maupun pengadilan internasional.
Pengamat hukum internasional menilai kasus ini berpotensi menimbulkan preseden baru terkait perlindungan aset negara dalam konflik geopolitik. Nilai aset Rusia yang dibekukan diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar, termasuk cadangan valuta asing dan investasi strategis di luar negeri.
Langkah Uni Eropa sebelumnya disebut sebagai upaya menekan Rusia secara ekonomi menyusul konflik Ukraina. Namun, pernyataan Dubes Tolchenov menekankan bahwa Rusia melihat tindakan ini sebagai pelanggaran prinsip hukum dan hak milik negara.
Dari perspektif diplomasi, kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan Rusia–Eropa saat ini, di mana ekonomi, hukum internasional, dan politik saling terkait. Para pakar menyarankan kedua pihak menggunakan mekanisme hukum internasional untuk menyelesaikan sengketa agar menghindari eskalasi lebih lanjut.
Uni Eropa dan Rusia Bersitegang soal Ancaman Hibrida dan Aset Beku
Uni Eropa menegaskan kesiapan menggunakan seluruh instrumen kebijakan yang relevan, termasuk kemungkinan penerapan sanksi tambahan terhadap Rusia dan Belarus. Langkah ini sebagai respons terhadap ancaman hibrida yang dianggap meningkat, mulai dari serangan siber, disinformasi, hingga sabotase infrastruktur. Para pemimpin Uni Eropa menekankan bahwa perang di Ukraina serta dampak luasnya tetap menjadi tantangan eksistensial bagi keamanan kawasan Eropa dan global.
Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk Eropa, Alexey Tolchenov, membantah tuduhan tersebut dan menyoroti apa yang ia sebut sebagai serangan informasi yang sistematis. Menurut Tolchenov, perang hibrida tidak hanya soal operasi militer, tetapi juga perang informasi yang mencoba membentuk opini publik secara sepihak.
“Ketika berbicara tentang perang hibrida, itu juga berarti perang informasi. Mereka menyebarkan data yang dipalsukan dan tidak menyampaikan kebenaran,” ujar Dubes Tolchenov. Ia menekankan pentingnya memahami korban sipil secara adil, tidak hanya fokus pada Ukraina, sementara wilayah Rusia dan lain-lain jarang dilaporkan.
Selain itu, Tolchenov mengkritik keras rencana penggunaan aset Rusia yang dibekukan di negara-negara Barat. Ia menilai langkah ini melanggar hukum internasional. “Jumlahnya ratusan miliar. Dan mereka ingin, menurut istilah saya, mencuri uang ini,” tegasnya. Bank Sentral Rusia siap menempuh jalur hukum, baik di pengadilan Rusia maupun pengadilan internasional, jika aset tersebut digunakan secara ilegal.
Pengamat menilai konflik ini menunjukkan kompleksitas hubungan Rusia–Eropa, yang kini melibatkan ekonomi, hukum internasional, politik, dan informasi secara simultan. Nilai aset Rusia yang dibekukan diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar, termasuk cadangan devisa dan investasi strategis.
Baca juga:“Hujan Warnai Air Laut di Pulau Hormuz Iran Jadi Merah”




Leave a Reply