bikersleatherjacket.com -Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran siap menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk Persia jika diserang. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Al Jazeera, Sabtu, sebagai bentuk peringatan bagi Washington.
“Jika Washington menyerang kami, tidak ada kemungkinan untuk menyerang wilayah AS, tetapi kami akan menyerang pangkalan-pangkalan mereka di kawasan ini,” ujar Araghchi. Ia menegaskan bahwa langkah ini tidak ditujukan untuk negara tetangga Iran dan hanya terbatas pada target militer Amerika.
Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional di Teluk Persia, wilayah strategis yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia. Menurut data Energy Information Administration (EIA), lebih dari 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari, menjadikan keamanan kawasan ini krusial bagi ekonomi global.
Para analis menilai, pernyataan Iran bisa menjadi strategi diplomatik untuk menegaskan posisi negosiasi dengan Amerika Serikat terkait isu nuklir dan sanksi ekonomi. Sebelumnya, kedua negara pernah terlibat ketegangan militer, termasuk serangan drone dan patroli kapal perang di perairan internasional.
Baca juga:“Pemantauan Hilal Awal Ramadhan Akan digelar di 96 Titik”
Iran dan AS Sepakati Pertemuan Nuklir Baru, Iran Tolak Ekspor Uranium
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa putaran kedua perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat belum memiliki tanggal resmi. Meski demikian, kedua pihak sepakat pertemuan baru harus segera digelar.
Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan mengekspor uranium yang telah diperkaya ke luar negeri. “Kami fokus pada program nuklir damai dan tidak berniat mengirim uranium yang diperkaya ke negara lain,” katanya dalam Forum Al Jazeera, Sabtu.
Perundingan nuklir ini berkaitan dengan implementasi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang bertujuan membatasi kemampuan nuklir Iran dan mengurangi ketegangan internasional. Amerika Serikat dan Eropa terus mendorong Iran untuk mematuhi ketentuan pembatasan pengayaan uranium.
Iran menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai, termasuk penggunaan uranium untuk pembangkit energi dan penelitian ilmiah. Araghchi menekankan bahwa meskipun negosiasi tertunda, Teheran tetap terbuka pada dialog konstruktif dengan Washington.
Putaran pertama perundingan sebelumnya membahas pembatasan kapasitas pengayaan uranium, inspeksi nuklir, serta pencabutan beberapa sanksi ekonomi terhadap Iran. Namun, perbedaan pendapat mengenai kapasitas pengayaan dan mekanisme pengawasan masih menjadi tantangan utama.
Program Misil Tidak Akan Dibahas dalam Perundingan Nuklir
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa program misil Iran tidak akan dibahas dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat, sekarang maupun di masa mendatang. Ia menekankan hal ini sebagai urusan pertahanan yang sepenuhnya berada di kendali Teheran.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut dalam Forum Al Jazeera, Sabtu, setelah menjelaskan status putaran kedua perundingan nuklir antara Iran dan AS. “Kami fokus pada program nuklir damai dan tidak akan mendiskusikan misil kami,” ujarnya.
Putaran kedua perundingan nuklir antara kedua negara belum memiliki tanggal resmi, namun Araghchi menegaskan bahwa kedua pihak sepakat untuk segera melanjutkan dialog. Iran juga menolak mengekspor uranium yang telah diperkaya ke luar negeri, menegaskan bahwa program nuklir bersifat damai dan terkendali di dalam negeri.
Perundingan ini terkait Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang membatasi pengayaan uranium Iran dan berfokus pada pengawasan internasional. Sebelumnya, perundingan menghadapi kendala terkait kapasitas pengayaan, mekanisme inspeksi, dan sanksi ekonomi yang masih berlaku.
Pakar keamanan regional menekankan bahwa misil balistik Iran menjadi bagian dari kemampuan pertahanan nasional, sehingga bukan subjek negosiasi nuklir. Dengan menolak membahas program misil, Iran menegaskan kedaulatan militernya dan memisahkan isu pertahanan dari diplomasi nuklir.
Baca juga:“China Kuasai 35,6 Persen Pasar Otomotif Global Selama 2025”




Leave a Reply