bikersleatherjacket.com -Iran menyatakan harapan baru untuk merundingkan kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) yang lebih sederhana dibanding Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu, 22 Februari 2026.
Perdamaian nuklir kembali menjadi fokus diplomasi Teheran dan Washington. Iran berharap perjanjian baru cukup mencakup dua hal pokok: pencabutan sanksi ekonomi dan jaminan bahwa program nuklir Iran tetap damai. Kedua elemen ini dianggap kunci supaya proses negosiasi dapat berjalan lebih cepat dan efektif.
Menurut Araghchi, kesepakatan baru tak perlu sedetail JCPOA 2015 yang mencakup banyak batasan teknis dan pengawasan. Ia yakin ada ruang untuk perjanjian yang “lebih baik” namun tetap sederhana, dengan komitmen kuat untuk menjaga program nuklir Iran bersifat damai selamanya.
Iran juga menegaskan tidak akan melepaskan hak kedaulatan atas pengayaan uranium sendiri sebagai bagian dari program nuklir nasional. Negara itu menyatakan diplomasi adalah satu-satunya jalan menuju kesepakatan yang saling menguntungkan, sambil menolak tekanan militer.
Baca juga:“Arab Saudi Gelar Bukber dan Bagikan Kurma di Berbagai Kota di Indonesia”
Iran Tegaskan Diplomasi sebagai Kunci Kesepakatan Nuklir yang Lebih Sederhana
Iran menegaskan bahwa kesepakatan nuklir baru dengan Amerika Serikat harus fokus pada hal-hal mendasar. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, detail teknis berlebihan tidak dibutuhkan. Prioritas utama adalah memastikan program nuklir Iran tetap damai sekaligus mendorong pencabutan sanksi.
Araghchi menekankan, “Kita dapat menyepakati hal-hal mendasar dan memastikan program nuklir Iran bersifat damai selamanya, sementara lebih banyak sanksi dicabut.” Pernyataan ini menunjukkan strategi pragmatis Teheran dalam negosiasi nuklir.
Selain itu, Iran menegaskan tidak akan melepaskan hak kedaulatannya atas pengayaan uranium. Negara itu ingin mempertahankan kapasitas nuklirnya untuk keperluan damai, sesuai dengan hak internasional. Keputusan ini menegaskan posisi Iran bahwa kedaulatan nuklir adalah bagian penting dari kebijakan nasional.
Diplomasi dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Araghchi menyatakan, negosiasi damai menjadi prioritas utama, sementara tekanan militer atau sanksi tambahan tidak akan mengubah kebijakan Iran.
Solusi Diplomatik Nuklir Lebih Efektif daripada Tekanan Militer
Iran menekankan peluang mencapai kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan dengan Amerika Serikat melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negosiasi damai tetap menjadi fokus utama Teheran, tanpa meningkatkan ketegangan militer.
Menurut Araghchi, “Masih ada peluang yang baik untuk solusi diplomatik berdasarkan prinsip saling menguntungkan. Penumpukan militer tidak akan membantu dan tidak dapat menekan kami.” Pernyataan ini menegaskan komitmen Iran terhadap pendekatan damai dalam negosiasi nuklir.
Iran berharap kesepakatan baru lebih sederhana dibanding JCPOA 2015, dengan fokus utama pada pencabutan sanksi ekonomi dan jaminan program nuklir tetap damai. Strategi ini bertujuan mempercepat negosiasi sekaligus melindungi kepentingan nasional.
Selain itu, Teheran menegaskan hak kedaulatannya untuk memperkaya uranium tetap menjadi bagian dari program nuklir nasional. Negara itu ingin menjaga kapasitas nuklir damai sesuai hak internasional, sekaligus memenuhi komitmen non-proliferasi.
Diplomasi tidak langsung di Jenewa saat ini menjadi wadah utama untuk mencapai kesepakatan. Pertemuan dibantu pihak ketiga, dengan tujuan menyelesaikan perbedaan terkait pencabutan sanksi dan jaminan program nuklir damai.
Baca juga:“Anak-anak Korban Bencana Aceh Tengah Menerima Pendampingan Psikologi”




Leave a Reply