bikersleatherjacket – Penyanyi dan aktor asal Malaysia, Heliza Helmi dan Hazwani Helmi, mengungkapkan perlakuan brutal yang dialami selama ditahan tentara Israel. Keduanya merupakan bagian dari misi Global Sumud Flotilla, armada kemanusiaan yang membawa bantuan ke Gaza. Kapal yang mereka tumpangi diserang di perairan internasional, menyebabkan puluhan aktivis ditangkap. Dalam kesaksiannya kepada Anadolu Agency, Hazwani menggambarkan pengalaman mengerikan, termasuk dipaksa minum air toilet oleh pasukan Israel.
Pesawat yang membawa para aktivis tersebut tiba di Bandara Istanbul, Turki, pada Sabtu lalu. Sebanyak 137 orang dari armada itu, termasuk 36 warga Turki dan 23 warga Malaysia, berhasil dibebaskan setelah penahanan di Israel. Setibanya di Istanbul, mereka menjalani pemeriksaan medis di Institut Kedokteran Forensik Istanbul sebelum memberikan kesaksian resmi kepada jaksa. Laporan awal menunjukkan banyak aktivis mengalami trauma fisik dan psikologis akibat perlakuan tidak manusiawi selama dalam tahanan.
Misi Global Sumud Flotilla dan Tuntutan Hentikan Blokade Gaza
Hazwani menegaskan bahwa partisipasinya dalam misi kemanusiaan ini dilandasi tanggung jawab moral dan agama. Ia menyebut membantu warga Palestina merupakan kewajiban umat Muslim di seluruh dunia. Misi Global Sumud Flotilla sendiri bertujuan menembus blokade laut Israel terhadap Gaza yang telah berlangsung lebih dari 17 tahun.
Insiden ini menambah panjang daftar pelanggaran terhadap aktivis kemanusiaan yang mencoba menyalurkan bantuan ke Palestina. Beberapa organisasi internasional, termasuk Human Rights Watch, menyerukan penyelidikan atas dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Israel. Kasus ini juga meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Tel Aviv agar menghormati hak asasi manusia dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza yang kini menghadapi krisis kemanusiaan terburuk dalam dua dekade terakhir.
“Baca juga : Yurike Sanger, Istri Ketujuh Bung Karno, Tutup Usia”
Aktivis Malaysia Ceritakan Kekejaman Tentara Israel Selama Penahanan
Dua aktivis kemanusiaan asal Malaysia, Heliza Helmi dan Hazwani Helmi, mengungkapkan perlakuan tidak manusiawi yang mereka alami saat ditahan oleh tentara Israel. Kedua kakak beradik ini merupakan bagian dari misi Global Sumud Flotilla, armada internasional yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Mereka ditangkap setelah kapal yang mereka tumpangi diserang di perairan internasional oleh pasukan Israel.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Hazwani menceritakan kondisi mengenaskan di tempat penahanan. “Bisakah Anda bayangkan kami dipaksa minum dari air toilet? Beberapa orang jatuh sakit parah, tapi mereka berkata, ‘Jika belum mati, bukan masalah kami,’” ujarnya. Ia menyebut perlakuan itu sebagai bentuk kekejaman yang harus diketahui dunia. “Mereka sangat kejam, dan dunia perlu tahu hal ini,” tambahnya.
Heliza turut membagikan pengalamannya yang sama menyedihkan. Ia mengaku berpuasa selama tiga hari karena tidak diberi makanan. “Saya terakhir makan pada 1 Oktober. Hari ini, 4 Oktober, baru saya bisa makan lagi. Selama tiga hari, saya hanya minum dari air toilet,” ungkapnya. Pernyataan mereka memperkuat laporan sebelumnya yang menuduh Israel melakukan pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional.
Dukungan Turki Dapat Apresiasi dari Aktivis Setelah Pembebasan
Meski menghadapi penderitaan berat, Heliza dan Hazwani tetap menunjukkan keteguhan dan rasa syukur setelah dibebaskan. Mereka menyampaikan apresiasi mendalam terhadap dukungan rakyat Turki, yang menyambut para aktivis dengan hangat di Bandara Istanbul. “Kami sangat bersyukur dan tersentuh. Dukungan rakyat Turki membuat kami merasa bahagia dan kuat,” kata Hazwani. Heliza menambahkan dengan singkat, “Terima kasih, Turki.”
Setelah kedatangan di Istanbul, para aktivis menjalani pemeriksaan kesehatan di Institut Kedokteran Forensik Istanbul sebelum memberikan kesaksian kepada jaksa. Laporan resmi menunjukkan bahwa sebagian besar aktivis mengalami tekanan fisik dan mental akibat perlakuan Israel. Insiden ini menambah sorotan global terhadap kebijakan blokade Israel di Gaza. Pengamat HAM internasional menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap konvensi Jenewa dan menyerukan penyelidikan independen untuk memastikan keadilan bagi para korban.
“Baca juga : KMP Jatra II Kembali Layani Rute Gunungsitoli–Sibolga”




Leave a Reply