bikersleatherjacket.com -Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan kesiapan berdialog dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul di tengah upaya pemerintah mencegah krisis energi nasional.
Diaz-Canel menyampaikan sikap tersebut dalam pengarahan darurat pada Kamis, 5 Februari.
Ia berbicara di hadapan media nasional dan internasional di Havana.
Menurut Diaz-Canel, tekanan ekonomi dari Amerika Serikat semakin meningkat.
Tekanan tersebut berdampak langsung pada stabilitas energi dan ekonomi Kuba.
Ia menilai kebijakan AS telah mengisolasi Kuba dari sejumlah sekutu lama.
Kondisi ini juga mengganggu pengiriman minyak ke negara kepulauan tersebut.
“Kuba bersedia untuk terlibat dalam dialog dengan Amerika Serikat,” kata Diaz-Canel.
Ia menegaskan dialog menjadi opsi untuk meredakan ketegangan yang ada.
Kuba saat ini menghadapi keterbatasan pasokan bahan bakar.
Pemadaman listrik masih terjadi di beberapa wilayah.
Pemerintah Kuba menyiapkan langkah darurat untuk menjaga pasokan energi.
Langkah ini mencakup pengelolaan distribusi listrik dan efisiensi konsumsi.
Hubungan Kuba dan Amerika Serikat telah lama diwarnai sanksi ekonomi.
Sanksi tersebut memengaruhi perdagangan, investasi, dan sektor energi.
Baca juga:“Zayn Malik Siap Gelar Tur Solo Terbesar “The Konnakol Tour”
Kuba Perluas Energi Terbarukan Sambil Siapkan Dialog dengan AS
Presiden Kuba Miguel Diaz‑Canel menegaskan kesiapan berunding dengan Amerika Serikat di tengah tekanan krisis energi.
Pernyataan itu muncul bersamaan dengan langkah pemerintah mengantisipasi kekurangan minyak impor.
Diaz‑Canel menyampaikan dalam pengarahan darurat, Kamis (5/2), bahwa Havana terbuka untuk dialog tanpa prasyarat.
Tujuannya adalah mengurangi ketegangan yang memperburuk pasokan energi di pulau Karibia itu.
Presiden komunis itu mengatakan pemerintah telah menyiapkan strategi menghadapi kemungkinan kekurangan minyak.
Hal ini dipicu sanksi AS yang diperketat serta runtuhnya pemasok utama energi, Venezuela, setelah perubahan politik.
Diaz‑Canel menyoroti kemajuan di bidang energi terbarukan sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Ia mencatat taman surya fotovoltaik kini menyumbang sekitar 1.000 megawatt ke jaringan listrik nasional.
Kontribusi ini mewakili pertumbuhan sekitar 7 persen dari total kapasitas pembangkit listrik Kuba.
Krisis energi Kuba diperparah oleh gangguan pasokan minyak dari sekutu lama.
Sanksi AS dan target berikutnya terhadap pemasok alternatif seperti Meksiko ikut memperketat aliran bahan bakar.
Akibatnya, kubu pemerintah terpaksa menerapkan langkah darurat termasuk pengelolaan pasokan dan efisiensi energi.
Krisis Energi Kuba Memburuk Setelah AS Putus Pasokan Minyak Venezuela
Kuba kini menghadapi krisis energi serius setelah pasokan minyak dari Venezuela terputus.
Gangguan ini terjadi setelah Amerika Serikat menggerebek dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Sebelumnya, Venezuela menjadi pemasok utama minyak bagi Kuba selama bertahun‑tahun.
Pasokan Venezuela menyumbang sejumlah besar kebutuhan energi negara pulau itu.
Setelah menangkap Maduro, pemerintah AS menghentikan pengiriman minyak Venezuela ke Kuba.
Langkah ini memutus salah satu sumber energi penting bagi kebutuhan listrik dan bahan bakar Kuba.
Langkah itu sejalan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang lebih agresif terhadap kedua negara.
Trump mengancam mengenakan tarif kepada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Akibat langkah AS, mitra penting seperti Meksiko juga membatasi aliran minyaknya.
Pasokan minyak dari Meksiko—sebelumnya menjadi sumber alternatif—semakin berkurang.
Dengan berkurangnya minyak impor, Kuba kini mengantisipasi kekurangan bahan bakar.
Krisis ini memperparah kekurangan energi, berdampak pada listrik dan layanan dasar lainnya.
Presiden Kuba Miguel Diaz‑Canel menyatakan pemerintah telah mempersiapkan langkah antisipatif.
Termasuk memperluas energi terbarukan untuk mengurangi dampak penurunan pasokan minyak.
Baca juga:“Pemprov DKI Siapkan 20 Transjabodetabek Baru Rute Blok M -Soekarno Hatta”




Leave a Reply