bikersleatherjacket -Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas di New Delhi. Ia berbicara di sela-sela pertemuan BRICS. Araghchi mengatakan mediasi yang dipimpin Pakistan belum gagal. Namun upaya itu menghadapi “jalan yang sangat sulit”. Ketidakpercayaan terhadap Washington menjadi kendala utama. Pesan-pesan Amerika yang kontradiktif juga memperumit situasi.
Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi. Araghchi menggambarkan gencatan senjata saat ini sebagai “goyah”. Gencatan itu terjadi setelah konflik baru melibatkan AS dan Israel. “Pada kenyataannya, tidak ada solusi militer untuk apa pun yang berkaitan dengan Iran,” tegas Araghchi. Iran hanya akan terlibat dalam “negosiasi nyata”. Syaratnya, pihak lain menunjukkan keseriusan. Mereka juga harus mencari “kesepakatan yang adil dan seimbang”.
Pakistan berperan sebagai mediator antara Iran dan AS. Upaya ini dimulai setelah serangan timbal balik pada April 2026. AS menuduh Iran mendukung kelompok yang menyerang pangkalan Amerika. Iran membantah dan menyerang balik. Gencatan senjata sementara telah disepakati pada 1 Mei. Namun kedua pihak masih saling curiga.
Araghchi menekankan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan. “Kami siap berdialog, tetapi tidak dengan posisi lemah,” ujarnya. Menteri luar negeri AS, Antony Blinken, sebelumnya mengatakan pintu diplomasi masih terbuka. Namun Blinken menegaskan bahwa Iran harus menghentikan program nuklirnya. Iran bersikeras program nuklirnya untuk tujuan damai.
Baca juga:Kemenag Gelar Pemantauan Hilal Awal Zulhijah di 88 Titik
Mediasi Pakistan Belum Gagal Tapi Jalan Terjal, Sambut Baik Peran China
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan klarifikasi di New Delhi. Ia berbicara di sela-sela pertemuan BRICS, Jumat (15/5). Ditanya soal mediasi Pakistan dan pernyataan Presiden AS Donald Trump. Trump sebelumnya menyebut kemungkinan peran China. Araghchi mengatakan inisiatif Islamabad masih aktif. Meskipun menghadapi kesulitan besar.
“Proses mediasi oleh Pakistan belum gagal. Namun berada dalam jalur yang sangat sulit. Terutama karena perilaku Amerika dan ketidakpercayaan yang ada di antara kita,” katanya.
Araghchi juga menyambut baik peran diplomatik apa pun dari China. Asalkan konstruktif. “China telah membantu di masa lalu. Dalam pemulihan hubungan antara Iran dan Arab Saudi,” ujarnya. Ia merujuk pada rekonsiliasi bersejarah yang dimediasi Beijing. Kesepakatan itu terjadi pada Maret 2023.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan China. Kami adalah mitra strategis satu sama lain. Kami tahu bahwa China memiliki niat baik. Jadi, apa pun yang dapat dilakukan China untuk membantu diplomasi akan disambut baik oleh Republik Islam Iran,” tambah Araghchi.
Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan China dapat berperan sebagai penengah. Trump menganggap Beijing memiliki pengaruh besar terhadap Teheran. Hubungan ekonomi China-Iran sangat erat. Nilai perdagangan kedua negara mencapai 45 miliar dolar AS pada 2025. China juga menjadi pembeli utama minyak Iran.
Mediasi Pakistan dimulai setelah ketegangan memuncak pada April 2026. AS dan Israel melancarkan serangan terbatas ke fasilitas nuklir Iran. Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak. Gencatan senjata sementara disepakati pada 1 Mei. Namun implementasinya goyah karena saling tuduh.
Program Nuklir Kami Damai, Selat Hormuz Terbuka dengan Koordinasi Militer
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kembali menegaskan posisi negaranya di New Delhi. Ia berbicara di sela-sela pertemuan BRICS, Jumat (15/5). Araghchi menyatakan Iran tidak berupaya memiliki senjata nuklir. Program nuklir Teheran bersifat damai. Hal ini sudah berulang kali disampaikan.
Ia juga menjawab pertanyaan mengenai navigasi di Selat Hormuz. Araghchi mengatakan jalur air tersebut tetap terbuka. Kapal komersial boleh melintas. Kecuali kapal negara yang “sedang berperang dengan kami.” Kapal yang ingin melintas harus berkoordinasi dengan otoritas militer Iran. Sebab di daerah tersebut masih ada ranjau dan rintangan. Iran telah membantu beberapa kapal India melewati selat dengan aman.
Araghchi menambahkan bahwa Iran dan Oman sedang berkonsultasi. Mereka membahas pengaturan masa depan. Administrasi dan keamanan selat strategis itu menjadi fokus. “Selat tersebut terletak di perairan teritorial Iran dan Oman. Tidak ada perairan internasional di antaranya,” tegasnya.
Menteri Luar Negeri Iran itu juga menyinggung hubungan dengan India. Hubungan ekonomi dan sejarah antara Teheran dan New Delhi sangat kuat. Namun perdagangan bilateral menurun. Penyebabnya adalah sanksi AS. “Sebelum sanksi-sanksi itu, kami biasa memiliki bisnis dan perdagangan senilai lebih dari 20 miliar dolar AS dengan India,” katanya.
Data menunjukkan bahwa pada 2025, nilai perdagangan India-Iran hanya sekitar 2,5 miliar dolar AS. Penurunan drastis ini akibat tekanan AS terhadap pembelian minyak Iran. India, yang dulu menjadi importir utama minyak Iran, kini beralih ke negara lain. Meski demikian, Araghchi tetap optimis. Hubungan baik kedua negara dapat dipulihkan. Tentunya jika sanksi dicabut.
Baca juga:Presiden Palestina Sebut Gencatan Senjata Gaza Masih Rapuh




Leave a Reply