Menlu Yordania Soroti Kebijakan Israel yang Hambat Perdamaian
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi memperingatkan bahwa Israel akan terus menjalankan kebijakan yang menghambat prospek perdamaian jika masyarakat internasional tidak mengambil langkah pencegahan yang efektif.
Safadi menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan untuk memperingati satu tahun Konferensi Deklarasi New York di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Rabu.
Konferensi tersebut sebelumnya diselenggarakan oleh Prancis, Inggris, Kanada, dan Arab Saudi sebagai bagian dari upaya internasional untuk mendorong penyelesaian konflik Israel-Palestina melalui solusi dua negara.
Safadi Minta Dukungan Solusi Dua Negara Diikuti Tindakan Nyata
Safadi menilai dukungan internasional terhadap solusi dua negara tidak cukup jika hanya diwujudkan melalui pernyataan politik. Menurut dia, dukungan tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret untuk mencegah kebijakan yang dinilai menghambat proses perdamaian.
Dia mengatakan kebijakan Israel saat ini merusak peluang tercapainya perdamaian dan melemahkan kemungkinan terbentuknya negara Palestina sebagai bagian dari penyelesaian dua negara.
“Israel merasa tidak peduli dengan sikap mayoritas negara yang mendukung solusi dua negara karena mereka tidak pernah dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan yang merusak prospek perdamaian ataupun menghadapi tindakan pencegahan internasional yang efektif,” kata Safadi.
Menurut Safadi, masyarakat internasional sedang berupaya membangun perdamaian yang adil, tetapi pemerintah Israel justru mengambil langkah yang menurutnya semakin merusak solusi dua negara.
baca juga: Taiwan Perpanjang Cuti Nikah Berbayar Jadi 14 Hari, Ini Alasannya
Dia menyebut solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian. Safadi juga menilai sejumlah kebijakan Israel bertentangan dengan hukum internasional.
Yordania Soroti Permukiman dan Krisis Gaza
Safadi menyambut negara-negara yang telah mengakui Palestina sebagai negara serta mengambil langkah untuk merespons kebijakan Israel.
Namun, dia menilai respons internasional perlu diperluas dan diperkuat. Menurut Safadi, perhatian khusus perlu diberikan terhadap perluasan permukiman, penyitaan lahan, serta memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Yordania menempatkan isu perlindungan solusi dua negara sebagai bagian penting dari agenda diplomatiknya.
Safadi juga mendorong negara-negara yang mendukung perdamaian agar tidak berhenti pada pengakuan politik. Dia meminta adanya kebijakan internasional yang mampu memberikan konsekuensi terhadap tindakan yang dinilai menghambat penyelesaian konflik.
Pertemuan Libatkan 29 Negara dan Uni Eropa
Pertemuan peringatan satu tahun Konferensi Deklarasi New York dibuka oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut menghadiri pertemuan tersebut. Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut forum itu juga dihadiri kepala negara dan perwakilan dari 29 negara serta Uni Eropa.
Kehadiran sejumlah negara dan Uni Eropa memperlihatkan luasnya dukungan diplomatik terhadap pembahasan solusi dua negara. Namun, Safadi menekankan bahwa dukungan tersebut perlu diikuti langkah konkret agar proses perdamaian tetap memiliki prospek.
Tekanan Internasional Jadi Sorotan Yordania
Safadi menempatkan tindakan internasional sebagai faktor penting untuk mempertahankan peluang penyelesaian konflik melalui solusi dua negara.
Dia menilai lemahnya tindakan pencegahan dapat membuat kebijakan yang menghambat perdamaian terus berlangsung. Karena itu, Yordania mendorong negara-negara yang mendukung perdamaian untuk meningkatkan tekanan diplomatik.
Pernyataan tersebut juga menegaskan perhatian Yordania terhadap perkembangan di Gaza dan wilayah Palestina. Selain aspek politik, Safadi menyoroti persoalan kemanusiaan serta dampak perluasan permukiman dan penyitaan lahan terhadap prospek penyelesaian konflik.
Ke depan, pertemuan internasional dan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menjadi ruang penting bagi negara-negara pendukung solusi dua negara untuk menentukan bentuk dukungan yang lebih konkret.
Bagi Yordania, keberlanjutan prospek perdamaian tidak hanya bergantung pada dukungan terhadap solusi dua negara, tetapi juga pada kemampuan masyarakat internasional mendorong langkah yang dapat mempertahankan kemungkinan terbentuknya perdamaian yang adil.
baca juga: Baznas RI perkuat kolaborasi bantuan Palestina dengan KHCF Yordania




Leave a Reply