bikersleatherjacket -Para pemimpin ASEAN menyepakati penguatan kerja sama maritim untuk mewujudkan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran kawasan. Kesepakatan ini tetap berpijak pada kepatuhan terhadap hukum internasional. Hasil penting tersebut dituangkan dalam Deklarasi Bersama Pemimpin ASEAN tentang Kerja Sama Maritim . Dokumen ini diteken pada KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, Jumat (8/5).
“Kami sepakat memperkuat kerja sama maritim di bidang penegakan hukum, pertahanan, keamanan dan keselamatan navigasi, serta konektivitas transportasi laut,” demikian petikan deklarasi bersama itu . Siaran resmi disampaikan di situs ASEAN 2026 dan dilihat pada Sabtu.
Para pemimpin ASEAN juga sepakat memperluas kerja sama pada beberapa bidang lain. Pertama, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) di laut. Kedua, perlindungan lingkungan laut dari berbagai ancaman. Ketiga, penanganan polusi maritim secara kolektif. Keempat, pembangunan infrastruktur bawah laut.
Deklarasi ini menjadi respons atas dinamika geopolitik di perairan Asia Tenggara. Beberapa kawasan seperti Laut China Selatan kerap mengalami ketegangan. Dengan deklarasi ini, ASEAN menegaskan ingin menjadi kawasan yang stabil dan sejahtera. Konektivitas transportasi laut juga menjadi perhatian, sejalan dengan target menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Masyarakat Asia Tenggara berharap deklarasi ini tidak hanya di atas kertas, tetapi diimplementasikan dengan sungguh-sungguh oleh seluruh negara anggota.
Baca juga:CDC Tetapkan Wabah Hantavirus sebagai Respons Darurat Level 3
Forum Penjaga Pantai, Bentuk Pusat Maritim di Filipina
Deklarasi tersebut turut menyepakati optimalisasi Forum Penjaga Pantai ASEAN atau ACF. Forum ini dijadikan platform utama kerja sama penegakan hukum maritim. Langkah optimalisasi dilakukan melalui penguatan kapasitas personel. Serta peningkatan koordinasi dengan lembaga terkait di kawasan ASEAN.
ASEAN juga berkomitmen mengintensifkan kerja sama maritim. Tidak hanya melalui ACF, tetapi berbagai mekanisme kawasan lainnya. Seperti Forum Regional ASEAN (ARF), KTT Asia Timur (EAS), dan Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus (ADMM-Plus). Semua forum ini akan saling bersinergi mengawasi laut kawasan.
Para pemimpin ASEAN menegaskan landasan hukum kerja sama ini. Seluruh kegiatan akan memerhatikan Piagam PBB. Selain itu, Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 menjadi rujukan utama. Serta hukum dan norma internasional lainnya yang berlaku.
Negara-negara anggota ASEAN juga sepakat mendorong pemahaman lebih lanjut terkait isu maritim. Caranya adalah melalui pendirian Pusat Maritim ASEAN. Pusat tersebut akan berlokasi di Filipina sebagai tuan rumah KTT tahun ini. Pusat ini diharapkan menjadi pusat riset, pelatihan, dan koordinasi data kelautan. Dengan semua langkah ini, ASEAN menunjukkan keseriusannya menjaga laut yang menjadi urat nadi ekonomi dan keamanan kawasan. Masyarakat pesisir dan nelayan diharapkan merasakan langsung manfaat dari stabilitas maritim yang lebih baik.
Negosiasi CoC Laut China Selatan Berdasarkan UNCLOS, Bahas Dampak Krisis Timur Tengah
Pusat Maritim ASEAN diharapkan mendukung kerja sama lintas sektor dan lintas pilar ASEAN di bidang kemaritiman. Artinya, pusat ini tidak hanya untuk urusan penjaga pantai. Pusat ini juga menghubungkan aspek perdagangan, lingkungan, hingga pertahanan.
Terkait Pedoman Tata Perilaku (Code of Conduct/CoC) di Laut China Selatan, ASEAN sepakat melanjutkan negosiasi. Proses ini harus sesuai hukum internasional. Termasuk UNCLOS 1982 yang menjadi rujukan utama. Negosiasi CoC telah berlangsung bertahun-tahun. Tidak mudah mencapai konsensus di tengah klaim tumpang tindih. Namun ASEAN tetap berkomitmen pada jalur diplomasi.
Para pemimpin ASEAN juga mendukung penguatan kerja sama maritim dengan mitra eksternal. Kerja sama ini tetap mengutamakan Sentralitas ASEAN. Artinya, ASEAN yang menentukan arah, bukan kekuatan luar. Implementasinya dilakukan melalui Pandangan ASEAN terhadap Indo-Pasifik (AOIP).
Dalam kesempatan yang sama, para pemimpin Asia Tenggara mengadopsi pernyataan penting lainnya. Yakni pernyataan bersama mengenai respons ASEAN terhadap krisis Timur Tengah. Krisis ini berdampak langsung pada stabilitas energi dan ekonomi kawasan. Dengan semua keputusan ini, ASEAN menunjukkan bahwa meskipun beragam, kawasan ini tetap bersatu dalam menghadapi tantangan global. Stabilitas dan kemakmuran adalah tujuan bersama yang harus dijaga.
Baca juga:Pakistan Minta Bantuan Singapura untuk Pulangkan Pelaut dari Kapal Sitaan AS




Leave a Reply