- bikersleatherjacket – Amerika Serikat dan Iran telah menerima kerangka awal rencana untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima pekan. Namun, Teheran menolak langkah segera untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global . Seorang pejabat Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan membuka kembali selat tersebut hanya dengan imbalan gencatan senjata “sementara” .
Rencana yang difasilitasi Pakistan ini mengusulkan pendekatan dua tahap: gencatan senjata segera, diikuti perjanjian komprehensif dalam 15 hingga 20 hari . Namun, Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan harus mengarah pada pengakhiran perang secara permanen, bukan sekadar jeda sementara .
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Iran jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu Selasa, 8 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat . Trump menyatakan akan menghancurkan semua pembangkit listrik Iran jika para pemimpin negara itu tidak menyetujui pembukaan Selat Hormuz .
Kesepakatan tersebut diharapkan memungkinkan kembali beroperasinya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini terganggu. Selat ini merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia . Iran secara efektif telah menutup selat tersebut sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu .
Pernyataan tegas juga datang dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Mereka menyatakan bahwa Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali ke kondisi semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel” . IRGC disebut telah memasuki tahap akhir kesiapan operasional untuk menerapkan “tatanan baru di Teluk Persia” .
Juru bicara Kementerian Luar Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa tuntutan Tehran “tidak boleh diartikan sebagai tanda kompromi, tetapi sebagai cerminan keyakinannya dalam mempertahankan posisinya” . Ia juga menyatakan bahwa ancaman AS untuk menyerang infrastruktur energi dan industri merupakan “kejahatan perang” berdasarkan hukum internasional .
Hingga saat ini, konflik telah menewaskan sekitar 3.540 orang di Iran dan 23 orang di Israel, menurut laporan . Amerika Serikat juga kehilangan 13 personel militernya .
Rencana Perdamaian yang Dimediasi Pakistan Muncul Setelah Serangkaian Komunikasi Intensif
Rencana perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan muncul setelah serangkaian komunikasi intensif antara Washington dan Tehran melalui saluran belakang. Proposal yang secara informal dijuluki “Kesepakatan Islamabad” ini mengusulkan pendekatan dua tahap: gencatan senjata segera, diikuti negosiasi lanjutan untuk mencapai penyelesaian permanen dalam waktu 15 hingga 20 hari .
Panglima militer Pakistan, Asim Munir, dilaporkan melakukan komunikasi sepanjang malam dengan Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi untuk mengoordinasikan rencana perdamaian yang diusulkan ini . Pakistan memanfaatkan posisi uniknya sebagai negara yang memiliki akses langsung ke Washington sekaligus mewakili kepentingan diplomatik Iran di AS .
Pemerintah Iran menyatakan telah menyampaikan posisi dan tuntutannya melalui mediator. Juru bicara Kementerian Luar Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran telah merumuskan posisi berdasarkan kepentingannya dan mengkomunikasikannya melalui perantara sebagai respons terhadap proposal gencatan senjata . Namun, Teheran menegaskan bahwa negosiasi tidak dapat dilakukan di bawah tekanan atau ancaman, dengan seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa pembicaraan saat ini “tidak sesuai dengan ultimatum dan ancaman untuk melakukan kejahatan perang” .
“Baca Juga : Gejolak NATO: Trump Marah, Kunjungan Sekjen Kunci“
Iran Tegaskan Tidak Akan Buka Selat Hormuz Hanya untuk Gencatan Senjata Sementara
Iran tidak ragu menyampaikan tuntutan yang dianggap sah, dan itu bukan tanda kompromi, melainkan cerminan kepercayaan diri dalam mempertahankan posisi,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran. Pernyataan ini menegaskan sikap Teheran yang tidak bersedia tunduk pada tekanan asing.
Iran Tolak Buka Selat Hormuz dalam Gencatan Sementara
Seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan membuka Selat Hormuz sebagai bagian dari gencatan senjata sementara. Selat Hormuz adalah jalur air strategis di Teluk Persia yang menjadi pintu keluar masuk sekitar seperlima pasokan minyak global. Iran juga menolak tenggat waktu yang ditetapkan AS. Teheran menganggap ultimatum sebagai bentuk tekanan yang tidak dapat diterima dalam diplomasi.
AS Belum Siap untuk Gencatan Senjata Permanen
Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa Washington belum siap untuk menyetujui gencatan senjata permanen. Meskipun Presiden Trump mengancam serangan besar jika kesepakatan tidak tercapai, posisi internal AS tampak lebih hati-hati. Diskusi yang berkembang mencakup kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari sebagai bagian dari kesepakatan dua tahap menuju perdamaian jangka panjang.
Namun, Iran bersikeras bahwa jeda sementara tanpa kepastian pengakhiran perang secara permanen tidak cukup. Mereka menuntut jaminan bahwa setelah Selat Hormuz dibuka, AS dan sekutunya tidak akan kembali melancarkan serangan. Dengan kata lain, bagi Iran, membuka selat berarti mengorbankan satu-satunya alat tekanan strategis yang mereka miliki saat ini.
Sementara negosiasi terus berlangsung melalui mediasi Pakistan, kapal-kapal tanker minyak masih belum berani melintas. Harga minyak global pun tetap fluktuatif, menunggu kata sepakat yang mungkin masih memerlukan waktu berminggu-minggu, jika tidak berbulan-bulan.
“Baca Juga : Kemkomdigi Jelaskan Label IGRS di Steam karena Miskomunikasi“




Leave a Reply