bikersleatherjacket -Alexander Darchiev meminta Amerika Serikat menolak rencana Jerman membangun tentara terkuat di Eropa.
Pernyataan itu disampaikan dalam acara peringatan kemenangan melawan Nazi Jerman.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kedutaan Besar Rusia untuk Amerika Serikat.
Darchiev menilai rencana penguatan militer Jerman sebagai langkah berbahaya.
Ia meminta Rusia, Amerika Serikat, dan komunitas internasional menolak kebijakan tersebut.
Menurutnya, penguatan militer besar-besaran dapat memicu ketegangan geopolitik baru di Eropa.
“Rencana berbahaya yang harus ditentang bersama oleh Rusia dan AS,” kata Darchiev.
Ia juga menyebut pentingnya menjaga nilai kemanusiaan dalam hubungan internasional.
Pernyataan tersebut menegaskan kekhawatiran Rusia terhadap arah kebijakan pertahanan Jerman.
Darchiev menuding politikus Jerman sedang merancang strategi “Bergerak ke Timur”.
Ia mengaitkan langkah itu dengan ambisi membangun kekuatan militer terbesar di Eropa.
Menurut Rusia, kebijakan tersebut berpotensi mengubah keseimbangan keamanan kawasan.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya perhatian Eropa terhadap sektor pertahanan.
Beberapa negara Eropa mulai meningkatkan anggaran militer dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah tersebut dipicu situasi keamanan regional yang semakin kompleks.
Jerman sendiri terus memperkuat kemampuan militernya pasca meningkatnya konflik di Eropa Timur.
Pemerintah Berlin menilai modernisasi pertahanan diperlukan untuk menjaga stabilitas kawasan.
Namun, kebijakan itu mendapat sorotan tajam dari Rusia.
Hubungan Rusia dan negara-negara Barat masih menghadapi ketegangan geopolitik berkepanjangan.
Isu ekspansi militer dan keamanan Eropa menjadi salah satu sumber utama perbedaan pandangan.
Pernyataan Darchiev memperlihatkan meningkatnya sensitivitas terhadap kebijakan pertahanan Jerman.
Baca juga:“Kapal Tanker China Dilaporkan Diserang di Selat Hormuz”
SEJARAH PERANG DUNIA II DI TENGAH TEGANGAN EROPA
Alexander Darchiev menyoroti kembali sejarah Perang Dunia II dalam peringatan kemenangan melawan Nazi Jerman.
Ia menyampaikan pandangan Rusia terkait narasi sejarah dan situasi geopolitik Eropa saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan di Kedutaan Besar Rusia untuk Amerika Serikat.
Darchiev menyebut Rusia menolak segala bentuk penyangkalan terhadap korban rakyat Soviet.
Menurutnya, tindakan itu kini dikategorikan sebagai kejahatan di Rusia.
Ia mengacu pada keputusan pengadilan Rusia pada 19 April lalu.
Diplomat Rusia itu menilai sebagian negara Eropa mulai mengabaikan sejarah perang.
Ia secara khusus menyinggung penyangkalan terhadap penderitaan rakyat Soviet selama pendudukan Nazi.
Pernyataan tersebut menunjukkan sensitivitas Rusia terhadap isu sejarah Perang Dunia II.
“Mengingat genosida terhadap rakyat Soviet kini disangkal di Eropa,” kata Darchiev dalam pidatonya.
Ia menilai sejarah perang harus tetap dijaga secara objektif dan bertanggung jawab.
Rusia memandang pengorbanan rakyat Soviet sebagai bagian penting sejarah dunia modern.
Darchiev juga menegaskan peran besar Tentara Merah dalam mengalahkan kekuatan Poros.
Menurutnya, kemenangan tersebut menyelamatkan dunia dari perbudakan dan pemusnahan massal.
Ia menyebut Uni Soviet kehilangan sekitar 27 juta warga selama perang berlangsung.
Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta korban merupakan warga sipil.
Angka itu menjadi salah satu korban terbesar dalam sejarah konflik global.
Rusia kerap menggunakan data tersebut untuk menegaskan besarnya pengorbanan rakyat Soviet.
Selain membahas sejarah perang, Darchiev menyinggung hubungan Rusia dan Amerika Serikat.
Ia mengutip pernyataan bersama Vladimir Putin dan Donald Trump pada 2020.
Keduanya saat itu menilai kerja sama melawan musuh bersama sebagai contoh kemitraan strategis.
Menurut Darchiev, kolaborasi Rusia dan Amerika Serikat pernah menjadi kekuatan penting dunia.
Ia menilai semangat kerja sama tersebut perlu diingat kembali dalam situasi global saat ini.
Pernyataan itu muncul di tengah hubungan Rusia dan Barat yang masih penuh ketegangan.
STRATEGI MILITER JERMAN DAN SEJARAH SUNGAI ELBE
Alexander Darchiev menyinggung kembali kerja sama Rusia dan Amerika Serikat pada Perang Dunia II.
Ia menyebut peristiwa jabat tangan di Sungai Elbe sebagai simbol persatuan melawan Nazi Jerman.
Momen tersebut terjadi pada 25 April 1945 di wilayah pusat Jerman Nazi.
Menurut Darchiev, pertemuan prajurit Tentara Merah dan Tentara Amerika Serikat memiliki makna historis penting.
Ia menilai kerja sama itu menunjukkan kekuatan aliansi menghadapi ancaman global.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peringatan kemenangan melawan Nazi Jerman.
“Jabat tangan bersejarah di Sungai Elbe akan selalu menjadi simbol,” kata Darchiev.
Ia mengaitkan simbol itu dengan pentingnya kerja sama internasional saat ini.
Rusia menilai sejarah tersebut perlu dijaga di tengah meningkatnya ketegangan global.
Pernyataan Darchiev muncul setelah Jerman menyetujui strategi militer baru pada April lalu.
Untuk pertama kalinya, Berlin secara resmi menetapkan dokumen strategi pertahanan nasional.
Dokumen tersebut memuat target penguatan militer jangka panjang.
Pemerintah Jerman menargetkan pembentukan angkatan darat terkuat di Eropa pada 2039.
Langkah itu menjadi bagian dari modernisasi pertahanan dan peningkatan kesiapan militer.
Jerman menilai kebijakan tersebut penting menghadapi tantangan keamanan kawasan.
Namun, Rusia memandang rencana itu dengan penuh kewaspadaan.
Moskow menilai penguatan militer Eropa dapat memicu ketidakseimbangan geopolitik baru.
Isu tersebut semakin sensitif di tengah hubungan Rusia dan Barat yang tegang.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan.
Konflik di Eropa Timur turut mendorong perubahan strategi keamanan regional.
Jerman menjadi salah satu negara yang mempercepat modernisasi militernya.
Rusia terus menyoroti perkembangan kebijakan pertahanan negara-negara NATO.
Moskow menilai stabilitas keamanan Eropa harus dijaga melalui dialog internasional.
Sementara itu, negara-negara Barat melihat penguatan pertahanan sebagai langkah antisipatif.
Baca juga:“Dubes Rusia Minta AS Tolak Rencana Jerman Bangun Militer Terkuat di Eropa”




Leave a Reply