bikersleatherjacket – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 16 poin atau 0,10 persen ke level Rp16.701 pada Kamis (7/11/2025). Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) serta rencana pemerintah membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi Rupiah.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (8/11/2025). Ia memperkirakan kurs rupiah akan berada di kisaran Rp16.700–Rp16.750 per dolar AS. “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.700–Rp16.750,” ujar Ibrahim di Jakarta.
Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari rencana pemerintah membahas RUU tentang Perubahan Harga Rupiah atau Redenominasi Rupiah. Regulasi ini termasuk dalam empat kerangka utama Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.70/2025 tentang Rencana Strategis Kemenkeu 2025–2029. Langkah ini dianggap sebagai upaya memperkuat kredibilitas dan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Pemerintah Targetkan Redenominasi Rampung pada 2026
Kementerian Keuangan menargetkan pembahasan RUU Redenominasi Rupiah dapat diselesaikan pada tahun 2026. Kebijakan ini bertujuan menyederhanakan nominal mata uang tanpa mengubah daya beli masyarakat. Dengan redenominasi, rupiah diharapkan lebih efisien dalam transaksi dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Ibrahim menilai, rencana redenominasi bukanlah hal baru karena pemerintah sebelumnya sudah mencantumkan wacana tersebut dalam PMK No.77/PMK.01/2020. Namun, kali ini pembahasannya dinilai lebih serius dan terarah dalam kerangka reformasi sistem keuangan nasional.
Langkah ini juga mencerminkan komitmen pemerintah memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang. Jika terlaksana dengan baik, redenominasi dapat memperbaiki persepsi internasional terhadap rupiah sekaligus menstabilkan fluktuasi nilai tukar di masa mendatang.
“Baca juga : Ditjen Pajak Ungkap Ciri Shadow Economy yang Jadi Target”
Rencana Redenominasi Fokus Sederhanakan Nilai Nominal Rupiah
Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi Rupiah dengan gagasan utama menyederhanakan nilai nominal mata uang. Dalam rencana tersebut, tiga angka nol di belakang akan dihapus, misalnya Rp1.000 menjadi Rp1. Langkah ini tidak mengubah nilai tukar maupun daya beli masyarakat, tetapi bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi dan memperkuat citra rupiah di mata internasional.
Rencana redenominasi masuk dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan (Kemenkeu) 2025–2029 sebagaimana diatur dalam PMK No.70/2025. Pemerintah menargetkan pembahasan RUU dapat rampung pada 2026 agar implementasinya bisa dilakukan secara bertahap.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, redenominasi dapat membantu memperkuat stabilitas makroekonomi nasional. “Tujuannya adalah menyederhanakan sistem keuangan dan meningkatkan kepercayaan terhadap rupiah,” ujarnya di Jakarta, Kamis (7/11/2025).
Kebijakan ini juga dinilai dapat mendukung efisiensi administrasi perbankan, akuntansi, dan transaksi publik. Namun, pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur keuangan dan edukasi publik agar transisi berjalan lancar tanpa menimbulkan kebingungan.
Tekanan Eksternal Masih Bayangi Pergerakan Rupiah
Meski ada sentimen positif dari rencana redenominasi, pergerakan rupiah masih dibayangi penguatan dolar AS. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember belum tentu dilakukan. Pernyataan ini memperkuat posisi dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia menjelaskan bahwa laporan ketenagakerjaan nonpertanian ADP untuk Oktober menunjukkan hasil di atas ekspektasi, menandakan pasar tenaga kerja AS masih solid.
Selain itu, aktivitas bisnis di AS tetap kuat berdasarkan data indeks manajer pembelian (PMI). Namun, ketidakpastian meningkat akibat penutupan pemerintahan AS yang telah memasuki hari ke-36. Kondisi ini membuat ribuan pegawai federal bekerja tanpa bayaran dan memperlambat aktivitas ekonomi.
“Sekitar 13.000 pengontrol lalu lintas udara dan 50.000 petugas keamanan transportasi bekerja tanpa gaji. Puluhan ribu penerbangan tertunda, sementara kepadatan bandara meningkat,” terang Ibrahim.
Kombinasi antara ketidakpastian global dan kuatnya data ekonomi AS diperkirakan masih akan menahan ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek. Namun, stabilitas domestik dan arah kebijakan fiskal pemerintah dapat menjadi penopang nilai tukar ke depan.
“Baca juga : PT Pertamina Dukung Perempuan Adat Kasimle Kelola SDA Lokal”




Leave a Reply