bikersleatherjacket.com -Seorang pasien di Amerika Serikat meninggal setelah mengalami gejala rabies pasca-transplantasi ginjal. Kasus ini tergolong sangat langka dan mengejutkan dunia medis.
Pasien awalnya dirawat dengan demam tinggi, kesulitan menelan, hidrofobia, dan gangguan sistem saraf otonom. Kondisinya memburuk hingga memerlukan ventilasi mekanis. Meski mendapat perawatan intensif, pasien meninggal sekitar seminggu kemudian.
Pemeriksaan pascakematian menemukan virus rabies pada air liur, kulit leher, dan jaringan otak pasien. Temuan ini menimbulkan pertanyaan karena korban tidak memiliki riwayat kontak dengan hewan pembawa rabies.
Penyelidikan lebih lanjut mengarah ke donor ginjal. Donor adalah seorang pria yang sempat dirawat di ICU dan dinyatakan mati otak beberapa hari sebelum organ diambil. Analisis laboratorium menunjukkan kemungkinan donor terinfeksi rabies sebelum transplantasi dilakukan.
Kasus ini menjadi peringatan penting bagi prosedur transplantasi organ. Dokter menekankan perlunya skrining lebih ketat terhadap riwayat penyakit donor, meski infeksi rabies pada manusia jarang terjadi.
Ahli epidemiologi menjelaskan, penularan rabies melalui organ manusia sangat jarang, tetapi bisa terjadi jika virus berada dalam jaringan vital. Kasus ini juga menegaskan pentingnya kewaspadaan di rumah sakit terhadap penyakit zoonosis yang tidak biasa muncul.
Kedepannya, regulator medis AS diperkirakan akan mengevaluasi protokol keamanan transplantasi untuk meminimalkan risiko penularan virus langka. Penemuan ini juga menambah literatur medis terkait rute penularan rabies nontradisional.
Baca juga:“Kemlu RI Koordinasi dengan Otoritas Singapura Terkait Penangkapan Enam WNI”
Paparan Pendonor Picu Penularan Rabies Lewat Transplantasi Ginjal
Kasus penularan rabies lewat transplantasi ginjal kembali menjadi perhatian medis setelah seorang pasien di AS meninggal dunia.
Pasien mengalami gejala rabies, termasuk demam tinggi, kesulitan menelan, hidrofobia, dan gangguan sistem saraf otonom. Kondisi memburuk hingga memerlukan ventilasi mekanis. Sekitar sepekan setelah dirawat, pasien meninggal meski mendapat perawatan intensif.
Pemeriksaan pascakematian mengungkap virus rabies terdapat pada air liur, kulit leher, dan jaringan otak. Hal ini mengejutkan karena pasien tidak memiliki riwayat kontak hewan pembawa rabies.
Penyelidikan medis menyoroti donor ginjal. Donor adalah pria yang sebelumnya dirawat di ICU dan dinyatakan mati otak beberapa hari sebelum organ diambil. Analisis laboratorium menunjukkan donor kemungkinan sudah terinfeksi rabies sebelum transplantasi dilakukan.
Ahli epidemiologi menekankan, rabies jarang menular lewat organ manusia, namun paparan jaringan vital yang mengandung virus dapat memicu infeksi fatal.
Kasus ini menegaskan perlunya skrining lebih ketat terhadap donor, termasuk riwayat penyakit infeksius langka. Protokol transplantasi organ di rumah sakit kemungkinan akan dievaluasi untuk mengantisipasi risiko serupa.
Kejadian ini menambah literatur medis tentang rute penularan rabies nontradisional, dan menjadi peringatan bagi dunia kesehatan global untuk memperkuat prosedur keamanan donor organ.
Hasil Uji Lanjutan Konfirmasi Infeksi Rabies pada Transplantasi Ginjal
Hasil uji lanjutan dari kasus transplantasi ginjal di AS mengonfirmasi adanya virus rabies pada jaringan donor dan penerima.
Laboratorium menemukan virus rabies dalam sampel ginjal donor serta pada jaringan tubuh pasien penerima. Temuan ini menegaskan penularan terjadi melalui organ transplantasi.
Pemeriksaan molekuler mengidentifikasi strain rabies yang sama pada donor dan penerima. Hal ini memperkuat dugaan infeksi lintas organ, meski kasus seperti ini sangat jarang terjadi.
Ahli virologi menekankan bahwa rabies biasanya menular lewat gigitan hewan, sehingga transmisi melalui transplantasi organ termasuk fenomena langka.
Petugas medis menyoroti pentingnya skrining ketat terhadap donor, termasuk riwayat paparan penyakit menular jarang dan pemeriksaan laboratorium sebelum prosedur transplantasi.
Baca juga:“22 Desember 1956: Hari Kelahiran Colo, Gorila Prematur Pertama di Kebun Binatang AS”




Leave a Reply