- bikersleatherjacket – Sosok Jennie BLACKPINK pernah sangat lekat dengan brand kacamata asal Korea Selatan, Gentle Monster. Setiap kali koleksi kolaborasi dirilis, antrean mengular di luar toko-toko jenama itu. Namun sejak tahun lalu, posisi Jennie sebagai duta digantikan oleh Karina aespa. Jennie akhirnya didapuk menjadi duta brand global Ray-Ban.
Kepergian Jennie rupanya berdampak signifikan pada pendapatan perusahaan. Menurut laporan terbaru yang dikutip dari KBizoom, Selasa (7/4/2026), IICOMBINED—perusahaan induk Gentle Monster dan Tamburins—mencatat penurunan laba sebesar 24,3 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Itu adalah penurunan pertama setelah empat tahun berturut-turut mengalami pertumbuhan yang pesat. Kedua sektor intinya, yaitu kacamata (Gentle Monster) dan kosmetik (Tamburins), menunjukkan kinerja yang melemah secara bersamaan.
Waktu Kejadian yang Menarik Perhatian
Waktu kejadian ini menarik perhatian khusus karena tahun 2025 juga menandai berakhirnya kemitraan jangka panjang Jennie dengan perusahaan tersebut. Selama bertahun-tahun, Jennie telah menjadi wajah Gentle Monster dan Tamburins, memainkan peran kunci dalam meningkatkan citra global mereka.
Dari 2020 hingga 2024, IICOMBINED mengalami pertumbuhan pesat:
- 2020: Pendapatan 209,5 miliar won (sekitar Rp2,4 triliun)
- 2023: Pendapatan lebih dari 600 miliar won (sekitar Rp6,8 triliun)
- 2024: Pendapatan terus meningkat
Namun, tren kenaikan tersebut terhenti pada 2025, yang membuat banyak orang mengaitkan penurunan tersebut dengan ketidakhadiran Jennie sebagai brand ambassador.
Duta Baru vs Dampak Komersial Era Jennie
Setelah kepergian Jennie, merek-merek tersebut memperkenalkan duta merek baru, termasuk Felix dari Stray Kids dan Karina dari aespa. Terlepas dari popularitas mereka yang juga tinggi di kalangan penggemar K-pop, pengamat industri mencatat bahwa dampak komersialnya tidak sebanding dengan era Jennie.
Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan perbedaan ini:
- Efek “first mover” – Jennie menjadi wajah Gentle Monster saat brand tersebut mulai dikenal global
- Kesesuaian citra – Gaya edgy dan eksklusif Jennie sangat cocok dengan identitas Gentle Monster
- Keterlibatan dalam desain – Jennie terlibat aktif dalam proses kreatif kolaborasi, tidak sekadar menjadi model
Respons Pasar dan Strategi ke Depan
Penurunan laba 2025 menjadi sinyal peringatan bagi IICOMBINED. Perusahaan kini dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan tanpa kehadiran Jennie. Beberapa strategi yang mungkin dilakukan:
- Memperkuat kolaborasi dengan duta baru melalui kampanye yang lebih agresif
- Mengembangkan produk inovatif yang tidak terlalu bergantung pada selebriti
- Memperluas pasar geografis ke wilayah yang belum tergarap maksimal
Meskipun demikian, para analis optimis bahwa Gentle Monster masih memiliki fondasi brand yang kuat. Namun, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang seberapa besar dampak seorang brand ambassador—terutama sebesar Jennie BLACKPINK—terhadap kinerja keuangan perusahaan di industri fashion dan kecantikan Korsel.
“Baca Juga : Ritel: AS-Iran Bahas Gencatan, Hormuz Tetap Ditutup“
Kekuatan Merek Jennie: Warganet Soroti Penurunan Penjualan Pasca Kepergiannya
Di dunia maya, warganet Korea dengan cepat menyoroti kekuatan merek Jennie. Banyak yang memuji Jennie karena telah mengubah Gentle Monster menjadi simbol fesyen global selama kemitraannya selama tujuh tahun . Bahkan beberapa mengingat tren di mana penggemar rela berbaris panjang hanya untuk berfoto dengan papan reklame bergambar dirinya.
Komentar seperti “Angka penjualan berbicara segalanya” dan “Jennie mendefinisikan identitas merek” dengan cepat membanjiri forum-forum diskusi online, mencerminkan sentimen yang berlaku di kalangan publik . Pengaruh luar biasa Jennie ini tidak hanya sekadar opini, tetapi didukung oleh data konkret yang membuktikan statusnya sebagai “ratu penjualan” (sold out queen).
Kekuatan Komersial Jennie dalam Angka
Menurut platform analitik Lefty, penampilan Jennie di Paris Fashion Week Fall/Winter 2024 menghasilkan USD 34 juta dalam Earned Media Value (EMV) untuk Chanel hanya dari satu kali kemunculan . Angka ini menunjukkan bahwa setiap penampilannya memiliki nilai publisitas setara dengan kampanye iklan bernilai puluhan juta dolar.
Fenomena “Jennie Effect” juga terbukti dalam berbagai kolaborasinya:
- Gentle Monster: Kolaborasi ‘Jentle’ dengan Gentle Monster selalu menyebabkan situs web perusahaan mengalami gangguan karena lonjakan traffic saat peluncuran . Produk-produknya ludes dalam hitungan menit.
- Calvin Klein: Lini kapsul Jennie untuk Calvin Klein dilaporkan menyebabkan situs web raksasa fesyen tersebut mengalami gangguan karena permintaan yang luar biasa dari penggemar yang ingin membeli koleksi tersebut .
- Tamburins: Peluncuran parfum Tamburins tahun 2022 dengan sepuluh varian aroma berhasil mendongkrak penjualan hingga 4 kali lipat hanya dalam satu bulan di gerai Shinsegae Duty-Free, sekaligus menyumbang peningkatan pendapatan Tamburins hingga 700% .
Dugaan Eksploitasi Tenaga Kerja di IICOMBINED
Sementara itu, di tengah sorotan publik atas penurunan laba perusahaan, IICOMBINED justru diterpa tuduhan serius terkait eksploitasi tenaga kerja para desainer mereka . Melansir Kbizoom pada Rabu, 7 Januari 2026, sejumlah desainer, baik yang masih aktif maupun mantan karyawan, memutuskan untuk bersuara mengenai kondisi kerja yang mereka anggap sangat tidak manusiawi.
Laporan yang dirilis Maeil Labor News mengungkapkan bahwa para kreatif di balik merek mewah ini sering kali dipaksa bekerja hingga 70 jam per minggu tanpa kompensasi lembur yang layak . Kesaksian para karyawan menggambarkan budaya perusahaan yang sangat kaku dan menuntut pengorbanan pribadi yang ekstrem.
Data Kerja yang Memprihatinkan
Data log kerja internal yang ditinjau menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Sebagai contoh:
- Pada Juni 2025, seorang desainer tercatat bekerja rata-rata 11,5 jam setiap hari
- Pada Agustus 2025, karyawan tersebut harus bekerja selama 18 hari berturut-turut tanpa satu pun hari libur
- Pada September, ditemukan catatan seorang staf harus menjalani shift kerja selama 26 jam terus-menerus tanpa henti
Meskipun dalam kontrak kerja tertulis kewajiban 47,5 jam seminggu, kenyataannya mereka harus melampaui batas tersebut demi mengejar target desain yang tidak masuk akal . Sistem jam kerja diskresioner yang diterapkan perusahaan disinyalir hanya menjadi tameng untuk menghindari pembayaran upah lembur atau pemberian cuti kompensasi.
Dampak Kesehatan pada Karyawan
Beban kerja yang kronis ini bukan sekadar terjadi pada periode krisis sementara, melainkan sudah menjadi kondisi rutin yang berlangsung selama berbulan-bulan di lingkungan kantor IICOMBINED. Tekanan fisik dan mental yang luar biasa ini berdampak nyata pada kesehatan para desainer.
“Saya sering pergi untuk mendapatkan infus. Saya sering sakit. Tanggung jawab yang ditempatkan pada individu tak tertahankan,” ujar seorang karyawan, “Saya bahkan bekerja sambil minum obat anti-kecemasan,” imbuhnya .
Kesaksian tersebut diperkuat dengan adanya diagnosis klinis berupa gangguan kecemasan dan depresi yang dialami oleh karyawan akibat lingkungan kerja yang dianggap sangat beracun dan tidak memberikan ruang untuk beristirahat.
Kontroversi ini pun memicu pertanyaan besar di kalangan warganet dan pengamat industri mengenai harga yang harus dibayar demi sebuah inovasi estetik yang dikagumi dunia. Apakah kesuksesan komersial Gentle Monster dan Tamburins dibangun di atas penderitaahan para desainer yang karyanya selama ini kita kagumi?
“Baca Juga : Kemkomdigi Jelaskan Label IGRS di Steam karena Miskomunikasi“




Leave a Reply