bikersleatherjacket – Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengenang masa sulit setelah wafatnya Presiden pertama RI, Soekarno, pada 21 Juni 1970. Ia mengungkap bahwa keluarga menghadapi penolakan dari pemerintah Orde Baru ketika mengajukan permohonan agar Bung Karno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Penolakan ini menjadi bagian dari tekanan politik terhadap keluarga Bung Karno usai peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Megawati mengungkapkan, proses pemakaman ayahnya tidak mudah dan penuh hambatan. “Hanya untuk dimakamkan saja susahnya bukan main,” kata Megawati dalam seminar internasional memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Blitar, Jawa Timur. Ia menyebut penolakan itu sebagai keputusan politik yang menunjukkan jarak antara pemerintah Orde Baru dan warisan Bung Karno.
Karena penolakan tersebut, keluarga akhirnya memutuskan memakamkan Bung Karno di Blitar. Lokasi itu dipilih setelah permintaan pemakaman di TMP Kalibata tidak disetujui oleh Presiden Soeharto. Megawati menegaskan, pemakaman di Blitar bukan tanpa makna, melainkan menjadi simbol perlawanan dan penghormatan keluarga terhadap sejarah.
Blitar Dipilih sebagai Lokasi Makam Bung Karno
Megawati menjelaskan bahwa area pemakaman Bung Karno di Blitar awalnya merupakan taman pahlawan bagi prajurit Pembela Tanah Air (PETA). Tempat itu dahulu kecil, kurang terawat, dan belum dikenal luas. Namun keluarga melihat lokasi tersebut memiliki kedekatan historis dengan perjuangan rakyat.
Keputusan keluarga memakamkan Bung Karno di Blitar kini menjadi bagian penting dari sejarah nasional. Kompleks makam itu berkembang menjadi situs heritage, tempat ziarah, dan pusat edukasi sejarah bagi masyarakat. Data dari Pemerintah Kota Blitar menunjukkan ribuan pengunjung datang setiap bulan, terutama saat peringatan hari kemerdekaan dan haul Bung Karno.
Megawati menyatakan bahwa keputusan itu tidak hanya soal tempat, tetapi tentang menjaga martabat dan warisan Bung Karno. Penolakan Orde Baru menjadi pelajaran sejarah tentang bagaimana kekuasaan dapat memengaruhi penghargaan terhadap tokoh bangsa.
Ke depan, ia berharap generasi muda memahami konteks sejarah ini bukan dengan dendam, tetapi dengan kesadaran untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan dan persatuan.
“Baca juga : Ditjen Pajak Ungkap Ciri Shadow Economy yang Jadi Target”
Makna Perjuangan Keluarga Bung Karno dan Pesan Terakhir Sang Proklamator
Megawati Soekarnoputri mengenang masa penuh keteguhan ketika keluarganya memperjuangkan pemakaman Bung Karno secara layak. Ia menyebut keputusan untuk memakamkan sang ayah di Blitar sebagai simbol perjuangan moral keluarga terhadap tekanan politik Orde Baru. Menurutnya, momen itu tidak hanya soal pemakaman, melainkan bentuk keteguhan menjaga martabat dan warisan sejarah.
Megawati juga mengingat pesan Bung Karno menjelang akhir hayatnya. Sang proklamator meminta dirinya untuk terus berjuang menjaga bangsa dan ideologi yang pernah ia perjuangkan. “Sehingga sampai akhir hayatnya pun beliau menuntut saya tetap berjuang bagi dirinya sendiri,” ujar Megawati dalam seminar internasional di Blitar.
Meski penuh hambatan, ia bersyukur makam Bung Karno kini menjadi tempat yang dihormati masyarakat. Kompleks makam tersebut berkembang menjadi destinasi sejarah, budaya, dan spiritual yang dikunjungi ribuan orang setiap tahun, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Banyak peziarah datang untuk mengenang jasa Bung Karno dan memahami pemikirannya tentang kebangsaan, persatuan, dan kedaulatan.
Makam Bung Karno Jadi Warisan Sejarah dan Inspirasi Generasi Muda
Megawati menyampaikan rasa syukur bahwa makam Bung Karno kini dikenal luas, bahkan lebih populer dibanding taman makam pahlawan pada umumnya. “Alhamdulillah, tempat ini sekarang menjadi sangat populer. Banyak orang datang ke sini, dan ini pun sekarang jadi aneh, taman makam pahlawan juga bukan, tapi lebih dikenal dengan makam proklamator bangsa, Bung Karno,” tuturnya. Situs ini kini menjadi pusat pembelajaran sejarah dan simbol penghormatan terhadap perjuangan bangsa.
Dalam kesempatan yang sama, Megawati mengajak peserta seminar dan generasi muda untuk tidak hanya mengingat sejarah, tetapi juga meneruskan cita-cita Bung Karno. Ia menekankan pentingnya meneguhkan nilai perjuangan, kemerdekaan, dan arah peradaban yang diwariskan sang proklamator. “Bukan sekadar mengenang sejarah, tapi juga untuk meneguhkan kembali arah peradaban yang diwariskan oleh proklamator kemerdekaan Indonesia,” katanya.
Makam Bung Karno di Blitar kini tidak hanya menjadi lokasi ziarah, tetapi juga simbol keteguhan, identitas bangsa, dan inspirasi bagi generasi penerus agar terus menjaga nilai keindonesiaan.
“Baca juga : Indonesia Negara Ekonomi Islam Terkuat Dunia 2025 Geser UEA”.




Leave a Reply