bikersleatherjacket – Manajemen BUMN kembali menyoroti persoalan struktural yang telah lama membebani kinerja perusahaan milik negara. Banyak anak dan cucu usaha dibentuk tanpa analisis kebutuhan yang memadai. Kondisi ini menggerus efisiensi induk usaha dan memperbesar risiko kerugian.
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan bahwa sebagian besar persoalan muncul dari pembentukan anak usaha yang tidak memiliki relevansi strategis. Banyak perusahaan baru muncul karena dorongan aktor internal yang ingin mengatur posisi jabatan. Praktik ini menyebabkan beban operasional meningkat dan keputusan bisnis berjalan tanpa arah yang jelas.
Febriany menuturkan bahwa konteks bisnis masa lalu jauh berbeda dengan kebutuhan industri saat ini. Banyak perusahaan dibentuk hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek sehingga tidak memberi nilai tambah bagi induk usaha. Ia menegaskan bahwa praktik penunjukan komisaris dan direksi yang tidak berbasis kebutuhan bisnis juga menyumbang penurunan kinerja.
Ia mencatat sedikitnya 1.000 entitas berada di bawah ekosistem BUMN. Jumlah itu mencakup induk perusahaan, anak usaha, dan cucu usaha. Setengah dari total entitas tersebut masih mencatat kerugian. Contoh yang ia berikan adalah perusahaan telekomunikasi yang memiliki anak usaha berlebihan. Satu jenis pekerjaan dapat dipegang oleh empat hingga lima perusahaan sekaligus, sehingga margin keuntungan hilang.
Kondisi ini menggambarkan tantangan serius yang harus dibenahi. BUMN perlu merampingkan struktur usaha dan memperjelas arah bisnis agar lebih adaptif terhadap pasar. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk menghentikan pembentukan entitas yang tidak relevan dan memastikan setiap perusahaan berada dalam rantai nilai yang produktif.
Upaya Pembenahan dan Arah Baru Transformasi BUMN
Kementerian BUMN mulai memperkuat tata kelola dengan pendekatan yang lebih ketat dan transparan. Setiap rencana pembentukan anak usaha kini wajib melalui kajian bisnis. Kajian itu mencakup kebutuhan pasar, kelayakan finansial, dan dampak terhadap struktur perusahaan.
Transformasi ini mendorong BUMN untuk mengurangi duplikasi pekerjaan dan mengefisienkan rantai operasi. Pembenahan dilakukan tidak hanya pada level manajemen, tetapi juga pada proses pengawasan. Arah baru ini sejalan dengan kebutuhan industri yang bergerak cepat dan semakin kompetitif.
Dalam konteks ini, sinergi antarperusahaan negara juga diperkuat. Proses integrasi diarahkan untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan daya saing. Pemerintah menargetkan agar setiap entitas mampu berkontribusi positif terhadap kinerja keseluruhan BUMN.
Melalui langkah tersebut, BUMN diharapkan dapat keluar dari pola lama yang tidak efektif. Transformasi yang berkelanjutan menjadi kunci untuk mengembalikan fokus perusahaan pada sektor yang memberi nilai tambah. Reformasi struktur dan prosedur bisnis menjadi fondasi penting menuju kinerja yang lebih sehat dan akuntabel.
“Baca juga : Boeing Defense Rekrut Pegawai Baru Usai Aksi Mogok”
Strategi Danantara Merampingkan Struktur Perusahaan BUMN
Danantara kembali menegaskan langkah strategis untuk merapikan struktur perusahaan BUMN yang dianggap terlalu gemuk. Selama bertahun-tahun, jumlah entitas BUMN terus membengkak akibat pembentukan anak dan cucu usaha yang tidak berbasis kebutuhan bisnis. Kondisi ini membuat operasional menjadi tidak efisien dan mengurangi kemampuan perusahaan negara untuk bersaing.
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, menyebut bahwa pembentukan perusahaan baru pada masa lalu sering dilakukan tanpa analisis strategis. Banyak perusahaan muncul karena konteks lama dan keputusan bisnis yang tidak relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Ia menegaskan bahwa pola seperti itu harus dihentikan agar BUMN lebih sehat.
Febriany menjelaskan bahwa dari total sekitar 1.000 entitas yang berada di bawah ekosistem BUMN, sebagian besar tidak memberikan nilai tambah. Setengah dari jumlah tersebut bahkan masih mencatat kerugian. Ia mencontohkan sektor telekomunikasi yang memiliki banyak anak usaha dengan fungsi serupa. Model bisnis itu dari awal sudah menggerus margin karena satu pekerjaan bisa ditangani oleh empat atau lima perusahaan sekaligus.
Pernyataan ini memperkuat urgensi pembenahan tata kelola dan struktur bisnis. Danantara menilai bahwa efisiensi harus menjadi prioritas agar BUMN dapat bergerak lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi.
Target Pemangkasan Perusahaan dan Arah Baru Transformasi BUMN
Dalam upaya memperbaiki kinerja, Danantara menargetkan pemangkasan jumlah perusahaan BUMN secara drastis. Dari sekitar 1.000 entitas yang ada saat ini, hanya sekitar 200 perusahaan yang dinilai layak dipertahankan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap perusahaan memiliki relevansi strategis, manfaat bisnis, dan prospek jangka panjang.
Febriany menegaskan bahwa perusahaan yang tidak memberikan manfaat nyata harus dieliminasi. Ia menyebut bahwa banyak entitas dibentuk berdasarkan keputusan masa lalu yang tidak lagi sejalan dengan kebutuhan industri modern. “Anak-anak yang tidak ada manfaatnya mesti kita eliminate,” ujarnya menegaskan arah baru transformasi.
Transformasi ini bukan sekadar pengurangan jumlah, tetapi penyelarasan fungsi dan tujuan bisnis. Pemerintah mendorong BUMN untuk fokus pada sektor inti dan menghindari perluasan yang tidak memberikan nilai tambah. Efisiensi diharapkan memperkuat daya saing, mengurangi beban operasional, dan meningkatkan kemampuan perusahaan negara dalam menciptakan keuntungan.
Melalui langkah pemangkasan tersebut, BUMN diharapkan mampu bergerak lebih lincah dan responsif. Struktur yang lebih ramping memungkinkan fokus lebih tajam pada inovasi, kolaborasi, dan strategi jangka panjang yang berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan. Transformasi berkelanjutan ini menjadi fondasi bagi kinerja BUMN yang lebih sehat, akuntabel, dan kompetitif di tingkat nasional maupun global.
“Baca juga : Direktur Lokataru Ditangkap Terkait 10 Korban Demo Agustus”




Leave a Reply